Senin, 06 Februari 2012

Pembibitan Lele Sangkuriang

BISNIS UNTUNG BUDI DAYA 
IKAN LELE "SANGKURIANG"
 CUMA 50 HARI DIJAMIN.

Di sini saya akan berbagi pengalaman saya ternak lele sangkuriang. Dari proses pembuatan kolam sampai dengan panen.
Semoga bermanfaat buat rekan-rekan semua. 


LELE SANGKURIANG BINJAI
MANTAB COOYYYY...


fish blog


Budidaya perikanan pada tiap jenis ikan







TEKNIK PEMIJAHAN LELE SANGKURIANG

I. PENDAHULUAN



Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Budi daya lele berkembang pesat dikarenakan:

1) Dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, 
2) Teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, 
3) Pemasarannya.relatif.mudah.dan 
4) Modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah. 
Pengembangan usaha budidaya ikan ini semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985. Keunggulan lele dumbo dibanding lele lokal antara lain tumbuh lebih cepat, jumlah telur lebih banyak dan lebih tahan penyakit. Namun demikian perkembangan budidaya yang pesat tanpa didukung pengelolaan induk yang baik menyebabkan lele dumbo mengalami penurunan kualitas. Hal ini karena adanya perkawinan sekerabat (inbreeding), seleksi induk yang salah atas penggunaan induk yang berkualitas rendah. Penurunan kualitas ini dapat diamati dari karakter umum pertama matang gonad, derajat penetasan telur, pertumbuhan harian, daya tahan terhadap penyakit dan nilai FCR(Feeding Conversation Rate). Sebagai upaya perbaikan mutu ikan lele dumbo, Balai Pengembangan Benih Air Tawar (BPBAT) Sukabumi telah berhasil melakukan rekayasa genetik untuk manghasilkan lele dumbo strain baru yang diberi nama lele ”Sangkuriang”. Perekayasaan ini meliputi produksi induk melalui silang-balik (tahun 2000), uji keturunan benih dari induk hasil silang-balik (tahun 2001), dan aplikasi produksi induk silang-balik (tahun 2002-2004). Hasil perekayansaan ini (lele sangkuriang) memiliki karakteristik reproduksi dan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan lele dumbo yang saat ini beredar di masyarakat.




Budidaya lele sangkuriang (Clarias sp) mulai berkembang sejak tahun 2004, setelah dirilis oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, dengan Nomor Kepmen KP 26/Men/2004. Teknik budidaya lele sangkuriang tidak berbeda dengan lele dumbo, mulai dari pembenihan sampai pembesaran.


II. TEKNIK PEMIJAHAN LELE SANGKURIANG



2.1. Pematangan Gonad


Pematangan gonad lele sangkuriang dilakukan di kolam tanah. Caranya, siapkan kolam ukuran 50 m2, keringkan selama 2-4 hari dan perbaiki seluruh bagian kolam, isi air setinggi 50-70 cm dan alirkan secara kontinyu, masukkan 300 ekor induk ukuran 0,7-1,0 kg, beri pakan tambahan berupa pellet khusus lele dumbo sebanyak 3% setiap hari.


Catatan: induk jantan dan betina dipelihara terpisah.


2.2. Pematangan di bak


Pematangan gonad juga bisa dilakukan di bak. Caranya, siapkan baktembok ukuran panjang 8m, lebar 4m dan tinggi 1m; keringkan selama 2-4 hari, isi air setinggi 80-100 cm dan alirkan secara kontinyu, masukkan 100 ekor induk, beri pakan tambahan (pellet) sebanyak 3 persen/hari.


Catatan: induk jantan dan betina dipelihara terpisah.



2.3.Seleksi

Seleksi induk lele sangkuriang dilakukan dengan melihat tanda-tanda pada tubuh.

Tanda induk betina yang matang gonad :

- perut gendut dan tubuh agak kusam
- gerakan lamban dan punya dua lubang kelamin
- satu lubang telur satu lubang kencing
- alat kelamin kemerahan dan agak membengkak

Tanda induk jantan yang matang gonad :

- gerakan lincah, tubuh memerah dan bercahaya
- punya satu lubang kelamin yang memanjang, kemerahan, agak membengkak dan berbintik putih.


2.4. Pemijahan dan Pemeliharaan Larva


Pemijahan ikan lele sangkuriang dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu : pemijahan alami (natural spawning), pemijahan semi alami (induced spawning) dan pemijahan buatan (induced/artificial breeding). Pemijahan alami dilakukan dengan cara memilih induk jantan dan betina yang benar-benar matang gonad kemudian dipijahkan secara alami di bak/wadah pemijahan dengan pemberian kakaban. Pemijahan semi alami dilakukan dengan cara merangsang induk betina dengan penyuntikan hormon perangsang kemudian dipijahkan secara alami. Pemijahan buatan dilakukan dengan cara merangsang induk betina dengan penyuntikkan hormon perangsang kemudian dipijahkan secara buatan.


A. Pemijahan Alami

- Siapkan bak berukuran panjang 2m, lebr 1m, dan tinggi 0,4 m
- Keringkan selama 2-4 hari
- Isi air setinggi 30 cm dan biarkan mengalir selama pemijahan
- Pasang hapa halus seusai ukuran bak
- Masukkan ijuk secukupnya
- Masukkan 1 ekor induk betina yang sudah matang gonad pada siang atau sore hari
- Masukkan pula 1 ekor induk jantan
- Biarkan memijah- Esok harinya tangkap kedua induk dan biarkan telur menetas di tempat itu. Hasil pemijahan alami lele sangkuriang biasanya kurang memuaskan. Jumlah telur yang keluar tidak banyak.


B. Pemijahan Semi Alami

- Perbandingan induk jantan dan betina 1:1 baik jumlah maupun berat
- Penyuntikkan langkahnya sama dengan pemijahan buatan
- Pemijahan langkahnya sama dengan pemijahan alami


C. Pemijahan Buatan

Pemijahan buatan memerlukan keahlian khusus. Dua langkah kerja yang harus dilakukan dalam sistem ini adalah penyuntikkan, pengambilan sperma dan pengeluaran telur.


1. Penyuntikkan dengan ovaprim

Penyuntikkan adalah kegiatan memasukkan hormon perangsang ke tubuh induk betina. Hormon perangsang yang digunakan adalah ovaprim. Caranya, siapkan induk betina yang sudah matang gonad; sedot 0,3 mil ovaprim untuk setiap kilogram induk; suntikkan ke dalam tubuh induk tersebut; masukkan induk yang sudah disuntik ke dalam bak lain dan biarkan selama 10 jam.

2. Penyuntikkan dengan hypofisa


Penyuntikkan bisa juga dengan ekstrak kelenjar hypofisa ikan mas atau lele dumbo. Caranya siapkan induk betina yang sudah matang gonad ; siapkan 1,5 kg ikan mas ukuran 0,5 kg; potong ikan mas tersebut secara vertikal tepat di belakang tutup insang; potong bagian kepala secara horizontal tepat dibawah mata; buang bagian otak; ambil kelenjar hypofisa; masukkan ke dalam gelas penggerus dan hancurkan; masukkan 1 cc aquabides dan aduk hingga rata; sedot larutan hypofisa itu; suntikkan ke dalam tubuh induk betina; masukkan induk yang sudah disuntik ke bak lain dan biarkan selama 10 jam.


3. Pengambilan Sperma

Setengah jam sebelum pengeluaran tleur; sperma harus disiapkan. Caranya:

1. Tangkap induk jantan yang sudah matang kelamin
2. Potong secara vertikal tepat di belakang tutup insang
3. Keluarkan darahnya
4. Gunting kulit perutnya mulai dari anus hingga belakang insang
5. Buang organ lain di dalam perut
6. Ambil kantung sperma
7. Bersihkan kantung sperma dengan tisu hingga kering
8. Hancurkan kantung sperma dangan cara menggunting bagian yang paling banyak
9. Peras spermanya agar keluar dan masukkan ke dalam cangkir yang telah diisi 50 ml (setengah gelas) aquabides
10. Aduk hingga homogen.


2.5. Pengeluaran Telur


Pengeluaran telur dilakukan setelah 10 jam dari peyuntikkan, namun 9 jam sebelumnya diadakan pengecekkan.


Cara pengeluaran telur:


1. Siapkan 3 buah baskom plastik, 1 botol Natrium Chlorida (infus), sebuah bulu ayam, kain lap dan tisu
2. Tangkap induk dengan sekup net
3. Keringkan tubuh induk dengan lap
4. Bungkus induk dengan lap dan biarkan lubang telur terbuka
5. Pegang bagian kepala oleh satu orang dan pegang bagian ekor oleh yang lainnya
6. Pijit bagian perut ke arah lubang telur
7. Tampung telur dalam baskom plastic
8. Campurkan larutan sperma ke dalam telur
9. Aduk hingga rata dengan bulu ayam
10. Tambahkan Natrium Chlorida dan aduk hingga rata
11. Buang cairan itu agar telur-telur bersih dari darah
12. Telus siap ditetaskan.


2.6. Penetasan


Penetasan lele sangkuriang dimasukkan ke dalam bak tembok. Caranya :



1. Siapkan sebuah bak tembok ukuran panjang 2 m, lebar 1 m dan tinggi 0,4 m
2. Keringkan selama 2-4 hari
3. Isi bak tersebut dengan air setinggi 30 cm dan biarkan air mengalir selama penetasan
4. Pasang hapa halus yang ukurannya sama dengan bak
5. Beri pemberat agar hapa tenggelam (misalnya kawat behel yang diberi selang atau apa saja
6. Tebarkan telur hingga merata ke seluruh permukaan hapa
7. Biarkan telur menetas dalam 2-3 hari.

Penetasan telur sebaiknya dilakukan pada air yang mengalir untuk menjamin ketersediaan oksigen terlarut dan penggantian air yang kotor akibat pembusukan telur yang tidak terbuahi. Peningkatan oksigen terlarut dapat pula diupayakan dengan pemberian aerasi.

Telur lele sangkuriang menetas 30-36 jam setelah pembuahan pada suhu 22-25 0C. Larva lele yang baru menetas memiliki cadangan makanan berupa kantung telur (yolksack) yang akan diserap sebagai sumber makanan bagi larva sehingga tidak perlu diberi pakan. Penetasan telur dan penyerapan yolksack akan lebih cepat terjadi pada suhu yang lebih tinggi. Pemeliharaan larva dilakukan dalam hapa penetasan. Pakan dapat mulai diberikan setelah larva berumur 4-5 hari atau ketika larva sudah dapat berenang dan berwarna hitam.


III. MANAJEMEN KESEHATAN DAN LINGKUNGAN

Kegiatan budidaya lele sangkuriang di tingkat pembenih/pembudidaya sering dihadapkan pada permasalahan timbulnya penyakit atau kematian ikan. Pada kegiatan pembenihan, penyakit banyak ditimbulkan oleh adanya serangan organisme pathogen sedangkan pada kegiatan pembesaran, penyakit biasanya terjadi akibat buruknya penanganan kondisi lingkungan.

Kegagalan pada kegiatan pembenihan ikan lele dapat diakibatkan oleh serangan organisme predator (hama) ataupun organisme pathogen (penyakit). Organisme predator yang biasanya menyerang antara lain insekta, ular, atau belut. Serangan lebih banyak terjadi bila pendederan benih dilakukan di kolam tanah dengan menggunakan pupuk kandang. Sedangkan organisme pathogen yang lebih sering menyerang adalah Ichthiopthirius sp, Trichodina sp, Dacttylogyrus sp, dan Aeromonas hydrophyla.

Penanggulangan hama insekta dapat dilakukan dengan pemberian insektisida yang direkomendasikan pada saat pengisian air sebelum benih ditanam. Sedangkan penanggulangan belut dapat dilakukan dengan pembersihan pematang kolam dan pemasangan kolam di sekeliling kolam.

Penanggulangan organisme pathogen dapat dilakukan dengan manajemen lingkungan budidaya yang baik dan pemberian pakan yang teratur dan mencukupi. Bila serangan sudah terjadi,benih harus dipanen untuk diobati. Pengobatan dapat menggunakan obat-obatan yang direkomendasikan.

Manajemen lingkungan dapat dilakukan dengan melakukan persiapan kolam dengan baik. Pada kegiatan budidaya dengan menggunakan kolam dan tanah, persiapan kolam meliputi pengeringan, pembalikan tanah, perapihan pematang, pengapuran, pemupukan, pengairan dan pengkondisian tumbuhnya plankton sebagai sumber pakan. Pada kegiatan budidaya dengan menggunakan bak tembok atau bak plastik, persiapan kolam meliputi pengeringan, disinfeksi (bila diperlukan), pemupukan, pengairan dan pengkondisian tumbuhnya plankton sebagai sumber pakan. Perbaikan kondisi air kolam dapat pula dilakukan dengan penambahan probiotik.






 TEXNOLOGI PEMBENIHAN






Sebagai upaya perbaikan mutu induk dan benih lele dumbo,BBPBAT Sukabumi sejak tahun 2000 telah melakukan perbaikan genetik melalui silang-balik (backcross). Hasil uji keturunan dan induk hasil silang balik, menunjukkan adanya peningkatan dalam pertumbuhan benih yang dihasilkan. Berdasarkan keunggulan lele dumbo hasil perbaikan mutu diberi nama “Lele SANGKURIANG”.

Lele sangkuriang dimasyarakat sesudah dirilis sangat diminati pembudidaya. Menghasilkan lele sangkuriang kelas benih sebar untuk menghindari penurunan pertumbuhannya maka perlu mengikuti kaidah-kaidah proses produksi sesuai dengan petunjuk pembenihan lele sangkuriang


Bahan dan Alat

Bahan yang diperlukan antara lain: induk pokok lele sangkuriang jantan dan betina, pakan induk, pakan benih, pakan pembesaran, cacing, ovaprim, ekstrak pituitari/hipofisa, kertas tissue, sodium klorida (NaCI) 0,9%, pupuk dan kapur.

Peralatan yang diperlukan antara lain: timbangan gantung, hapa penetasan telur, peralatan pemijahan buatan: alat suntik ukuran minimal 1 ml, gunting, waskom dan gelas, peralatan pemijahan alami: kakaban ukuran minimal lx0.2 m dan penutup bak peralatan perikanan: ember, lambit, serokan/scope net, sikat pembersih dan alat seleksi.


Prosedur Kerja Pemijahan

1. Seleksi Induk dan Penyuntikan


Memilih induk pokok lele sangkuriang jantan dan betina yang Udak berasal satu keturunan. Pada pemijahan buatan, perbandingan 1:4 satu jantan, empet betina bobot minimal 700 gram/ekor. Pada pemijahan alami, perbandingan 1:1 satu jantan dan satu betina minimal 700 gram/ekor.

Menyeleksi induk jantan dan betina yang matang gonad. Induk jantan ditandai dengan papila yang berwarna kemerahan dan memiliki panjang melewati pangkal sirip dubur. Induk betina ditandai dengan bentuk perut yang gendut dan bila diraba terasa lembek.

Penyuntikan dengan menggunakan hipoflsa atau ovaprim. Ekstrak hipofisa dapat berasal dan ikan Iele atau ikan mas sebagai donor. Dosis penyuntikan dengan hipofisa ikan mas 1 dosis, bila menggunakan donor ikan lele 2 dosis. 1 dosis = 1 Kg donor untuk 1kg induk lele. Menggunakan ovaprim dengan dosis 0,15 mI/kg induk. Penyuntikan dilakukan satu kali secara intra muscular yaitu pada bagian punggung ikan. Rentang waktu antara penyuntikan sampai ovulasi telur 10—14 jam bergantung pada suhu inkubasi induk.


2. Pemijahan


a. Pemijahan Buatan

Apabila telur telah ovulasi, kita harus menyiapkan sperma dengan cara mengambil kantung sperma pada ikan jantan, kemudian mengencerkan sperma pada larutan fisiologis (NaCl 0,9%) dengan perbandingan 1: 50 — 100,

Mengurut induk betina untuk mengeluarkan telur, kemudian aduk telur dan sperma secara merata menggunakan bulu ayam. Bilas campuran telur dan sperma menggunakan air untuk merangsang terjadinya fertilisasi. Tebar telur yang sudah terbuahi secara merata pada hapa penetasan.


b. Pemijahan Alami

Induk yang telah dipilih dipasangkan induk jantan dan induk betina sebanyak 1 pasang/bak. Pada bak pemijahan yang dilengkapi kakaban sebanyak 4 buah/bak, diberi penutup bak agar ikan tidak loncat.

Sesudah memijah induk dikembalikan ke kolam induk, telurnya dibiarkan sampal menetas. Telur yang telah menetas baik pemijahan secara buatan maupun alami, dipelihara sampai umur 5 han atau sampai kuning telurnya habis.


Pendederan 1

a. Pendederan Sistem Bak


Bak yang sudah dipersiapkan dengan kedalaman air 20—40 cm kemudian ditebar larva dengan padat tebar 20—30 ekon/liter. Lama pemeliharaan larva 14— 21 hari, Pemberian pakan untuk Pakan alami cacing Tubifex sp. (minggu pertama), kombinasi cacing Tubifex sp. dengan pakan buatan yang dihancurkan atau pelet tepung (minggu kedua) dan pakan buatan (minggu ketiga). Pakan alami diberikan secara ad libitum, sedangkan pakan buatan dengan dosis 10 — 15% bobot biomass dengan frekuensi pemberian empat kali per hari.

b. Pendederan di kolam

Kolam yang telah disiapkan dan telah dilakukan pemupukkan dengan pupuk organic dosis 500 gram/m2. Kedalaman air 30-50 cm. Biarkan selama 4-5 hari agar plankton tumbuh, larva umur 4 hari siap untuk ditebar dengan kepadatan 200-300 ekor/m2. Pemeliharaan larva dalam kolam selama 14-21 hari.

Pemberian pakan buatan pellet yang dihancurkan atau pellet tepung 5-7 hari setelah larva ditanam. Pakan buatan dengan dosis 10-15% dari bobot biomass dengan frekuensi pemberian empat kali .


Pendederan 2

Kolam yang telah disiapkan dan telah dilakukan pemupukkan dengan pupuk organic dosis 500 gram/m2, air 30-50 cm dan plankton telah tumbuh, benih hasil seleksi dari pendederan 1 siap untuk ditebar dengan kepadatan 100-150 ekor/m2. Pemeliharaan benih pada kolam pendederan selama 21-28 hari.

Pemberian pakan sebanyak 10%-15% bobot biomass/hari (minggu pertama dan minggu kedua) dan 5% bobot biomass/hari (minggu ketiga) dengan frekuensi pemberian tiga kali/hari. Pakan berupa pellet tepung pada minggu pertama dan pellet butiran diameter satu mm pada pemeliharaan selanjutnya. Benih ukuran panen 5-6 cm.


Pendederan 3



Kolam yang telah disiapkan seperti pada pendederan 2. benih hasil seleksi dari pendederan 2 yang ukuran relatif sama siap untuk ditebar dengan kepadatan 75—100 ekor/m2. Lama pemeliharaan benih di kolam pendederan selama 14—21 hari, Pemberian pakan sebanyak 5% — 10% bobot biomass/hari dengan frekuensi pemberian tiga kali/hari berupa pelet butiran diameter satu mm. Benih ukuran panen 7-8 cm. Benih slap untuk dipelihara di kolam pembesaran.


Pengelolaan Kesehatan Ikan dan Lingkungan






Mengamati kondisi kesehatan ikan berdasarkan respons makan dan gerakan ikan yang dipelihara selama kegiatan pemeliharaan. Memeriksa ikan secara mikroskopis apabila terjadi/terlihat gejala sakit. Melakukan pengobatan yang tepat bila terdapat indikasi penyakit. Melakukan penggantian air dan membuang sisa pakan/kotoran setiap han pada pemeliharaan larva sistem air bening. Mempertahankan kondisi air agar tetap berwarna hijau atau hijau kecoklatan pada pemeliharaan larva sistem air hijau dan pemeliharaan pendederan.


IV. PAKAN ALAMI PROTEIN TINGGI


"AZOLLA"

Azolla adalah tanaman air yang berdaun kecil-kecil dan pada saat-saat tertentu tumbuh sangat banyak. Warna daunnya bisa sangat hijau dan tebal. Azolla bukan tanaman air sembarangan. Azolla memilikiSaya kemampuan yang tidak dimiliki oleh tanaman air lain, yaitu menambat nitrogen (N) dari udara.

Udara yang kita hirup > 75%nya adalah N. Sayangnya N ini tidak bisa langsung diserap oleh tanaman. Azolla – lah yang menambat N udara menjadi N yang bisa diserap oleh tanaman. Kandungan N di dalam Azolla sangat tinggi untuk ukuran bahan organik, bisa mencapai 4 – 5% dari berat keringnya. Bahan organik yang lain umumnya hanya < 2%.


Kemampuan Azolla untuk menyuburkan tanaman sebenarnya sudah diketahui sejak lama. Orang-orang China dan Vietnam sudah sejak abad 15 dan 17 sudah memanfaatkan Azolla untuk pupuk tanaman. Kini Azolla telah tersebar di penjuru bumi. Di Indonesia, Meski sudah diperkenalkan dan dipopulerkan sejak awal tahun 1990-an, ternyata belum banyak petani yang memanfaatkan tanaman azolla (Azolla pinnata) untuk usaha taninya. Padahal manfaat tanaman air yang satu cukup banyak. Selain bisa untuk pupuk dan media tanaman hias, azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak dan ikan.
Di Bali, azolla biasa dan sering dijumpai terapung di perairan sawah dan kolam ikan. Karena dianggap gulma, para petani lantas menyingkirkannya. Ditumpuk dan dibuang begitu saja. Padahal, bila dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman padi di sawah, azolla ini bisa menekan penggunaan pupuk urea sampai 65 Kg/ha.

Manfaat Azolla:
1. Berperan sebagai mulsa, terutama saat kekeringan dan mengurangi pertumbuhan gulma.
2. Pakan ternak, unggas, dan ikan
3. Sebagai filter air dari pencemaran logam berat.

Pupuk Organik Azolla
Azolla sebagai pupuk organik, dapat diberikan dalam bentuk segar, kering, maupun kompos.
Cara pembuatan kompos Azolla:
100 kg azolla segar dan 5 kg dedak dicampur merata + 100 cc dekomposer (Superdegra) dilarutkan dalam 10 liter air, kemudian disiramkan merata dalam tumpukan bahan kompos. Tumpukan bahan kompos ditutup dengan (karung goni). Setelah 4 hari, pupuk azolla selesai difermentasi menjadi kompos.


Perbanyakan Azolla
Azolla dapat diperbanyak melalui beberapa cara, antara lain Monokultur, Tumpangsari dengan Padi, dan Tumpangsari Padi-Ikan-Azolla-Bebek-Sapi.


Perbanyakan dengan Monokultur:
1. sebanyak 2,5 t/ha pupuk kadang ditabur merata dalam petakan
2. setelah 5-7 hari kemudian, air dimasukkan dalam petakan dengan ketinggian 10-20 cm
3. sebanyak 25 kg/ha SP-36 ditabur merata, dan setiap 4-5 hr sekali dtaburi lagi.
4. Setelah 20-25 hari dari penyebaran, diperkirakan azolla telah mencapai 10-12,5 t/ha = 67-83 kg urea/ha.


Perbanyakan dengan cara tumpangsari dengan padi
1. Perbanyakan azolla sebelum benam
Setelah tanaman padi berumur 3-5 hari, sebanyak 2t/ha azolla ditebar secara merata sekitar tanaman padi. Diperkirakan, setelah berumur 15-20 hari dari sebar, dapat mencapai 7,5-10 t/ha azolla = 50-67 kg/ha urea. dan benam. Jika azolla dibiarkan panen sampai usia 25-30 hari dari sebar, diperkirakan dapat mencapai 12,5-15 t/ha azolla = 83-100 kg/ha urea.


2. Pembenaman azolla secara langsung
Pembenaman azola dapat langsung bersamaan dengan dengan saat pengolahan tanah pertama, pengolahan tanah kedua, atau dibenamkan setelah tanam padi yaitu bersamaan saat penyiangan padi.
Sebanyak 10-20 t/ha azolla dibenamkan ke dalam tanah.
Pembenaman saat pengolahan tanah:
1. Tebar Azolla bersamaan atau 1 minggu sebelum padi di bibit
2. Setelah lapangan penuh dengan Azolla, lahan dibajak agar Azolla terbenam
3. Selanjutnya dilakukan penaman padi dan Azolla yang tidak terbenam dibiarkan tumbuh.

Perbanyakan dengan tumpangsari padi-ikan-azolla-bebek-sapi
Pengembangan sistem usaha tani terpadu yang berbasis pertanian organik di lahan sawah, yaitu dengan memadukan tanaman padi padi-ikan-azolla-bebek-sapi secara sinergis.


Manfaat Tanaman Azolla

Foto 1. Azolla microphylla di kolam dipanen dengan serok. Azolla basah dan kering.
Azolla basah disukai oleh ikan, itik, maupun ternak besar seperti kambing, sapi, dll. Azolla kering bisa dicampurkan dalam pembuatan pakan ternak untuk menambah nilai gizi, terutama protein.







Foto 2. Kolam Azolla

Meski sudah diperkenalkan dan dipopulerkan sejak awal tahun 1990-an, ternyata belum banyak petani yang memanfaatkan tanaman azolla (Azolla pinnata) untuk usaha taninya. Padahal manfaat tanaman air yang satu cukup banyak. Selain bisa untuk pupuk dan media tanaman hias, azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak dan ikan.
Di Bali, azolla biasa dan sering dijumpai terapung di perairan sawah dan kolam ikan. Karena dianggap gulma, para petani lantas menyingkirkannya. Ditumpuk dan dibuang begitu saja. Padahal, bila dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman padi di sawah, azolla ini bisa menekan penggunaan pupuk urea sampai 65 Kg/ha.

Pengganti Urea

Pemanfaatan azolla sebagai pupuk ini memang memungkinkan. Pasalnya, bila dihitung dari berat keringnya dalam bentuk kompos (azolla kering) mengandung unsur Nitrogen (N) 3 - 5 persen, Phosphor (P) 0,5 - 0,9 persen dan Kalium (K) 2 - 4,5 persen. Sedangkan hara mikronya berupa Calsium (Ca) 0,4 - 1 persen, Magnesium (Mg) 0,5 - 0,6 persen, Ferum (Fe) 0,06 - 0,26 persen dan Mangaan (Mn) 0,11 - 0,16 persen.
Berdasarkan komposisi kimia tersebut, bila digunakan untuk pupuk mempertahankan kesuburan tanah, setiap hektar areal memerlukan azolla sejumlah 20 ton dalam bentuk segar, atau 6-7 ton berupa kompos (kadar air 15 persen) atau sekitar 1 ton dalam keadaan kering. Bila azolla diberikan secara rutin setiap musim tanam, maka suatu saat tanah itu tidak memerlukan pupuk buatan lagi.

Hal itu dimungkinkan, karena pada penebaran pertama 1/4 bagian unsur yang dikandung azolla langsung dimanfaatkan oleh tanah. Seperempat bagian ini, setara dengan 65 Kg pupuk Urea. Pada musim tanam ke-2 dan ke-3, azolla mensubstitusikan 1/4 - 1/3 dosis pemupukan.
Dibanding pupuk buatan, azolla memang lebih ramah lingkungan. Cara kerjanya juga istimewa, karena azolla mampu mengikat Nitrogen langsung dari udara.
Untuk media tanam

Penggunaan sebagai pupuk, selain dalam bentuk segar, bisa juga dalam bentuk kering dan kompos. Dalam bentuk kompos ini, azolla juga baik untuk media tanam aneka jenis tanaman hias mulai dari bonsai, suplir, kaktus sampai mawar. Untuk media tanaman hias, selain digunakan secara langsung, kompos azolla ini juga bisa dengan pasir dan tanah kebun dengan perbandingan 3 : 1 : 1.

Untuk membuat kompos azolla, caranya cukup mudah. Buat saja lubang ukuran (P x L x D) 3 x 2 x 2 meter. Kemudian azolla segar dimasukkan ke dalam lubang. Seminggu kemudian azolla dibongkar. Untuk mengurangi kadar air menjadi 15 persen, azolla yang sudah terfermentasi tersebut lantas dijemur. Setelah agak kering, baru dikemas dalam kantong plastik atau langsung digunakan sebagai media tanam.

Pakan ternak dan ikan

Selain untuk pupuk dan media tanam, azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, khususnya itik dan beragam jenis ikan omnivora dan herbivora. Sebagai pakan ternak, kandungan gizi azolla cukup menjanjikan. Kandungan protein misalnya, mencapai 31,25 persen, lemak 7,5 persen, karbohidrat 6,5 persen, gula terlarut 3,5 persen dan serat kasar 13 persen.
Bila digunakan untuk pakan itik, penggunaan azolla segar yang masih muda (umur 2 - 3 minggu) dicampur dengan ransum pakan itik. Berdasarkan hasil penelitian, campuran azolla 15 persen ke dalam ransum ini, terbukti tidak berpengaruh buruk pada itik. Maksudnya, itik tetap menyantap pakan campuran azolla ini dengan lahapnya. Produksi telur, berat telur dan konversi pakan juga tetap normal. Ini bearti penggunaan azolla bisa menekan 15 persen biaya pembelian pakan itik. Tentu saja hal ini cukup menguntungkan peternak karena bisa mengurangi biaya pembelian pakan itik.

Sama seperti untuk itik, bila akan dimanfaatkan untuk pakan ikan, azolla bisa diberikan secara langsung dalam keadaan segar. Boleh juga dengan mengolahnya terlebih dulu menjadi tepung. Tepung azolla ini, selanjutnya digunakan sebagai bahan campuran untuk membuat pakan buatan (pelet) untuk ikan.

Berdasarkan kaji terap di lapangan, dalam keadaan segar azolla bisa diberikan untuk pakan ikan gurami, tawes, nila dan karper. Dengan pemberian pakan berupa azolla, terbukti ikan tetap bisa tumbuh pesat. Tak kalah dengan ikan lainnya yang diberi pakan buatan berupa pelet.Di saat harga pupuk, pakan ternak dan ikan mahal seperti belakangan ini, tak ada salahnya bila azolla ini menjadi salah satu alternatif pilihan yang secara finansial cukup menguntungkan. Baik digunakan sendiri secara langsung atau untuk dibisniskan. Mau coba ? (ENNDY)





Menyediakan bibit lele Sangkuriang lokasi BINJAI (Indukan sertifikat BBPBAT Sukabumi)
 Jul 11, 2010 11:20:14
Menyediakan bibit lele Sangkuriang bermutu harga bersaing
(Indukan bersertifikat BBPBAT-Sukabumi)

4/5 cm = Rp.175 (ready stok
5/6 cm = Rp.250 (ready stok)
6/7 cm = Rp.300 (ready stok)
7/8 cm = Rp.350 (ready stok)
9/10 cm = Rp.400 (ready stok)
11/12 cm = Rp.500 (ready stok)

pemesanan wilayah Mebidang( medan binjai deliserdang)  minimum order 5000 ekor,

(harga blm termasuk ongkos kirim).

Enndy
telp : 085358849999


harga sewaktu2 bisa berubah, mohon dikonfirmasi ulang....






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar